Pura Ulun Swi
Pura Ulun Swi ,Pinaka Uriping Sawah .
Pura Ulun Swi di Desa Jimbaran adalah sebagai pusat Pura Ulun Swi di Bali.
Pura Ulun Swi di Jimbaran itu memiliki beberapa pasimpangan utama yaitu Pasimpangan Pura Ulun Swi di Desa Seseh. Pura Pasimpangan Ulun Swi di Desa Seseh ini didirikan karena saat ada ketegangan hubungan antara Kerajaan Badung (Pemecutan) dan Kerajaan Mengwi maka Raja dan rakyat Mengwi sulit pergi ke Pura Ulun Swi Pusat di Desa Jimbaran. Karena itu Raja Mengwi mendirikan Pura Pasimpangan di Desa Sesetan, Kecamatan Mengwi. Pura Pasimpangan Ulun Swi juga terdapat di Klungkung, di Pura Sri Jong di perbatasan Tabanan dan Jembrana dan di Pura Pakendungan, Kediri, Kabupaten Tabanan.
Dalam diklat kumpulan hasil penelitian sejarah pura ada beberapa kutipan lontar yang dikemukakan tentang Pura Ulun Swi. Kutipan Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul menyatakan: Ikang aneng negara krama, ikang Sad Kahyangan puput nya mulih maring Ulun Swi, rumaksa uriping sawah kabeh, ikang pwa dharma Ulun Swi dadi bandaning wong Bali.
Artinya, adapun yang ada di masyarakat, Sad Kahyangan itu kumpulnya kembali di Ulun Swi menjadi jiwanya semua sawah. Adapun Pura Ulun Swi itu menjadi pemersatu orang Bali.
Fungsi Pura Ulun Swi sebagai jiwanya semua sawah juga dinyatakan dalam Lontar Usaha Dewa. Dalam Lontar tersebut dinyatakan: Sang Hyang Bhakabumi anyeneng ring Ulun Swi ika maka uriping sawah kabeh. Artinya, Sang Hyang Bhakabumi berstana di Ulun Swi beliau itu sebagai jiwanya semua sawah. Mengenai yang dipuja di Pura Ulun Swi ini antara Lontar Usana Dewa dengan Lontar Sri Purana. Kalau Lontar Usana Dewa menyatakan bahwa yang dipuja di Ulun Swi itu adalah Batara Bhakabumi. Sedangkan dalam Lontar Sri Purana menyatakan juga yang berstana di Pura Ulun Swi itu Batara Bhakabumi. Tetapi di bagian lain lontar tersebut menyatakan bahwa yang berstana Pura Ulun Swi adalah Batara Indra Bhumi. Dua nama dewa itu mungkin sebutan pada kemahakuasaan Tuhan untuk menyuburkan ibu pertiwi atau bumi.
Karena dalam pantheon Hindu, Dewa Indra itu adalah dewa hujan. Pura Ulun Swi itu sebagai pura untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa hujan. Karena hujan yang teratur turun pada musimnyalah yang akan menjadikan sawah dan ladang itu berjiwa atau dapat menghasilkan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan.
Dalam Lontar Babad Jimbaran dinyatakan bahwa ada kesatria bernama Dalem Petak Jingga yang sangat dimuliakan oleh rakyat Desa Jimbaran. Dalem Petak Jingga terus mendirikan Meru Tumpang Solas dan dinamailah pura itu sebagai Pura Ulun Swi. Ada keturunan I Gusti Ngurah Tegeh Kori, karena sangat bakti pada Dalem Petak Jingga, maka keturunan I Gusti Ngurah Tegeh Kori itulah yang ditunjuk sebagai pemangku di Pura Ulun Swi itu.
Dalam buku diktat kumpulan hasil penelitian sejarah pura dinyatakan bahwa Dalem Petak Jingga itu tiada lain adalah I Gusti Agung Dimade / Dalem Agung Dimade / I Gusti Agung Maruti yang mengungsi dari Gelgel karena ada selisih paham dengan raja yang berkuasa saat itu (Kalah Perang). Ketika ada hubungan yang harmonis antara Kerajaan Mengwi dan Badung (Pemecutan) perawatan fisik dan ritual dari Pura Ulun Swi diserahkan kepada Kerajaan Badung. Pura Luhur Uluwatu kepada Puri Jero Kuta dan Pura Sakenan kepada Puri Kesiman.
Upacara piodalan di Pura Ulun Swi di Desa Jimbaran ini dilakukan pada Purnamaning Sasih Kapat. Kalau upacara dalam tingkatan yang besar menurut ketentuan beberapa lontar menggunakan kerbau cemeng atau hitam. Ini lambang memohon kesuburan sawah dan ladang.
Menurut Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul koleksi Geria Mandara Munggu menyatakan bahwa bila lalai melakukan upacara di Pura Ulun Swi maka akan menimbulkan ketidakberhasilan panen di sawah. Panenan akan hampa di periuk, sampai hampa dalam perut. Hal itu terjadi karena sari dari hasil sawah itu diambil kembali oleh Ida Batara Gunung Agung. Hama wereng pun akan merajalela sampai ke tanaman yang lainnya akan terserang berbagai jenis hama.
Lontar Usana Dewa juga menyatakan bahwa jika tidak dilakukan upacara di Pura Ulun Swi, Pura Masceti, Pura Rambut Sadhana maka ibu pertiwi tidak berhasil memberikan hasil yang baik. Hasil bumi semuanya akan hampa tidak ada amertha-nya atau tidak memberikan daya hidup. Hama akan merajalela. Demikian dinyatakan dalam beberapa lontar tentang Pura Ulun Swi itu. Hal itu pada zaman modern ini patut ditafsir ulang dengan daya nalar yang lebih dalam dan luas.
Dalam konsep beragama Hindu, ritual itu bukanlah sesuatu yang selesai. Ritual adalah langkah awal untuk melakukan bakti kepada Tuhan. Setelah ritual ada hal-hal yang dipesan dalam ritual itu untuk dilanjutkan dalam perbuatan nyata. Prosesi ritual sebagai suatu proses untuk menajamkan kekuatan spiritual sebagai jiwa dari suatu perbuatan. Berbuat tanpa dasar kekuatan spiritual akan mudah goyah. Karena itu apa yang dimaksudkan dalam lontar tentang upacara di Pura Ulun Swi harus diartikan sebagai suatu hal yang harus kita lakukan secara utuh dari ritual sebagai proses menguatkan daya spiritual, kuatnya daya spiritual itulah yang dijadikan landasan untuk diaktualkan secara kontekstual.
Dengan demikian, untuk menjaga agar sawah dan ladang tetap berjiwa memberikan hasil bumi yang melimpah sebagai sadhana atau sarana hidup yang tumbuh bagaikan rambut tak terhitung jumlahnya memberikan kemakmuran pada rakyat banyak. Karena apa yang dinyatakan dalam lontar itu sebagai dasar melakukan langkah niskala dan sekala untuk menjiwai sawah dan ladang. (wn)
Sumber : http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/16/bd1.htm
Pura Masceti
Kisah keberadaan Pura Masceti, lebih jelasnya juga terdapat dalam Raja Purana I. Gusti Agung Maruti, yang ada di Puri Keramas. Dalam naskah babad nomor 80.ab.81a. yang mengisahkan keberadaan I. Gusti Agung Maruti saat menjadi raja selama 26 tahun di kerajaan Gelgel, Klungkung dan juga dalam kisah keturunannya yang tersebar di jagat Bali, diantaranya di Desa Keraman, Gianyar. Pada tahun 1672 (1750 M), I Gusti Agung Maruti karo, bersamadi pada suatu malam di Cawu Rangkan (Jimbaran). Saat melihat bersamadi, dilihatlah ada sinar api, seperti warna emas di arah timur. Melihat keajaiban tersebut, berangkatlah I Gusti Agung Maruti mencari sinar tersebut hingga akhirnya tiba ditempat yang mengeluarkan cahaya emas itu. Baliau kemudian menemukan tempat suci yang terbuat dari bebaturan, berlokasi didalam hutan dekat pantai. Tempat suci bebaturan yang ditemukan tersebut adalah pura Masceti. Setelah menghaturkan persembahyangan dengan pasukannya, I Gusti Agung Maruti kemudian melanjutkan perjalanan menuju suatu satu wilayah yang kini dinamakan Desa Keramas. Sejak pemerintahan I Gusti Agung Maruti di Keramas, bebaturan tersebut kemudian dilakukan penataan sekaligus perbaikan bangunan suci.
Dari berbagai versi cerita mengenai keberadaan Pura Masceti, mana yang benar belum jelas. Jero Mangku Pura Masceti menegaskan bahwa ketenaran Pura Masceti terjadi setelah masa pemerintahan I Gusti Agung Maruti membangun kerajaan di Keramas.
Sumber : http://www.babadbali.com/pura/plan/masceti.htm
Pura Ulun Danu Beratan
Kilasan sejarah Pura Ulun Danu Beratan dapat diketahui berdasarkan data arkeologi dan data sejarah yang terdapat dalam lontar babad Mengwi. Data Arkeologi. Di depan halaman sebelah kiri dari pura Ulun Danu Beratan terdapat sebuah sarkopagus dan sebuah papan batu, yang berasal dari masa tradisi megalitik, sekitar 500 SM. Kedua artefak tersebut sekarang ditempatkan masing-masing di atas Babaturan (teras). Bisa diperkirakan bahwa lokasi di mana Pura Ulun Danu Beratan terdiri, telah digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ritual sejak jaman megalitik.
Data Dalam Babad Mengwi. Lontar Babad Mengwi secara tersirat menguraikan bahwa I Gusti Agung Putu sebagai pendiri kerajaan Mengwi mendirikan Pura di pinggir Danau Beratan, sebelum beliau mendirikan Pura Taman Ayun. Dalam lontar tersebut tidak disebutkan kapan beliau mendirikan Pura Ulun Danu Beratan, namun yang terdapat dalam lontar itu adalah pendirian Pura Taman Ayun yang upacaranya dilaksanakan pada hari Anggara Kliwon Medangsia tahun Saka Sad Bhuta Yaksa Dewa yaitu tahun caka 1556 (1634 M). Berdasarka uraian dalam lontar Babad Mengwi tersebut dapat diketahui bahwa Pura Ulun Danu Beratan didirikan sebelum tahun saka 1556, oleh I Gusti Agung Putu. Semenjak pendirian pura tesebut termasyurlah kerajaan Mengwi, dan I Gusti Agung Putu digelari oleh rakyatnya I Gusti Agung Sakti.
Pura Ulun Danu Beratan terdiri dari 4 komplek pura yaitu: Pura Lingga Petak, Pura Penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang, dan Pura Dalem Purwa berfungsi untuk memuja keagungan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti, guna memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan lestarinya alam semesta.
Sumber : http://www.surgabali.biz/pura_ulun_danu.php
Pura Taman Ayun
Babad Mengwi mengisahkan, Pura Taman Ayun dibangun semasa kepemimpinan I Gusti Agung Putu yang kelak menjadi Raja Mengwi I dengan nama abhiseka (gelar) Ida Tjokorda Sakti Blambangan. Gelar blambangan ini diberikan karena sang raja juga menguasai Blambangan di jazirah timur tanah Jawa atas pemberian (tatadan) Raja Buleleng, I Gusti Panji Sakti yang menikahkan putrinya, I Gusti Ayu Panji, dengan I Gusti Agung Putu untuk tujuan taktis-politis, raja Mengwi I ini juga dikenal dengan nama I Gusti Ngurah Made Agung, atau I Gusti Agung Ngurah Made Agung, alias I Gusti Agung Sakti.
Setelah bangkit dari kekalahan telak nan dipermalukan di hadapan publik lalu berbalik lantas menaklukkan I Gusti Ngurah Batutumpeng yang menguasakan daerah Kekeran, I Gusti Agung Putu beserta keluarga pindah dari Belayu, Marga, lalu membangun puri di Bekak dengan nama Puri Kaleran, tahun 1627 (1549 Saka). Di sebelah barat Puri Kaleran dia membangun tetamanan yang dinamakan Taman Ganter. Artinya taman yang amat mempesona menakjubkan. Di sinilah konon pusaka-pusaka puri dimandikan.
Belakangan, atas saran bagawanta (pendeta kerajaan) Ida Pedanda Gede Kekeran (Mengwitani) dan Ida Pedanda Kompyang Pemaron dari Geria Sidemen (Munggu), Puri Kaleran dipindahkan ke arah selatan, kian dekat dengan Taman Ganter. Perpindahan ini didasari pertimbangan karena di lokasi lama pernah berceceran darah Pasek Badak (*) , penguasa sakti pradesa Buduk, yang dapat ditaklukkan I Gusti Agung Putu. (Dilanjutkan setelah penjelasan tentang Pasek Badak).
(*) Nama asli dari Pasek Badak adalah Pasek Wanda, beliau adalah putra dari I Gusti Tohjiwa Dhimadya. Beliau melarikan diri ke Desa Tabu dan kemudian terus ke Besangtengah, dan seterusnya pindah ke daerah Badung pada suatu hutan, di sana beliau mempunyai seekor Badak sebagai tumpangannya. Setelah daerah itu berkembang dan diberi nama Desa Badak selanjutnya beliau ditetapkan sebagai pemimpin desa tersebut dengan julukan Pasek Badak yang wilayah kekuasaan-nya sampai di pantai selatan seperti, Uluwatu, Pecatu, Ungasan dan lain-lainya, daerah ini merupakan salah satu incaran dari Gusti Agung Putu dari Puri Kaleran. Pada suatu ketika Pasek Badak diundang ke Puri Kaleran, dan undangan ini dipenuhi oleh beliau. Setelah dijamu sebagai seorang tamu, pada akhir pembicaraan Gusti Agung Putu menantang Pasek Badak untuk perang tanding dengan taruhan daerah serta rakyat masing-masing. Dalam perang tanding tersebut tidak ada yang menang, karena keduanya sama-sama sakti. Oleh karena mungkin sudah menjadi kehendak hyang widhi, bahwa Gusti Putu Agung akan menjadi Raja, maka Pasek Badak dengan suka rela menyerahkan diri dengan syarat agar setelah beliau meninggal agar jenasahnya diupacari dan arwah sucinya akan disembah oleh paranti santana/keturunan Gusti Agung, dan syarat itu disetujui oleh Gusti Agung, bahkan paranti sentana dari widhi wedhana pineres yang banyaknya 40 orang, terdiri dari Brahmana, Ksatya, Wesya dan Sudra, semuanya akan menyembahnya..
( Lebih lengkap dapat dibaca di halaman Pasek Badak / Pasek Wanda di blog ini pada halaman Kerajaan Mengwi atau klik link ini : http://pusakka.blogdetik.com/?p=63 )
(Lanjutan)
Setelah Puri Kaleran dipindahkan ke arah selatan, nama puri diubah menjadi Puri Kawyapura. Artinya: kota atau benteng sang kawi, sang pujangga. Dalam teks-teks babad, Kawyapura juga disebut dengan istilah Manggarajya (kerajaan keindahan yang mempesona), Mangapura (kota keindahan nan mempesona), atau belakangan tenar dengan nama Mengwi (keindahan, menggubah keindahan). Kata manga (mango) bagi pecinta keindahan dan penekun susastra klasik Jawa Kuna tentu memiliki makna yang istimewa, begitu mendalam. Kata ini biasanya merujuk makna keterpesonaan sedemikian mendalam dalam pencarian keindahan, sehingga sering pula merujuk pada sang kawi sebagai insan pencari, pecinta keindahan mahadalam yang sekaligus pula adalah insan pemuja sang Dewi Keindahan.
Dalam banyak hal kata manga sering dirujukkan pada kata lango yang memiliki makna sangat mendalam dan sangat luas, dengan kata paduan maupun turunan yang jamak. Secara subjektif lango dapat berarti rasa terpesona mendalam, pengalaman estetik, rasa gairah dalam cinta, keindahan, terutama keindahan puitis-spiriual.
Dari penamaan oleh sang bhagawanta itu saja sudah benderang terisyaratkan harapan yang ingin digapai dengan pendirian keprabuan atau keratuan Kawyapura, atau Mangarajya, Mangupura, atau yang kini dikenal dengan sebutan Mengwi. Sebagai kerajaan dengan wilayah kekuasana nan luas, ujung-ujung puncak perbatasan nyatur desa empat arah mata angin utama Kerajaan Mengwi masa lampau memang merupakan kawasan indah mempesona. Pesona keindahan itu terutama terbentang menghampar luas di perbatasan ujung hulu-hilir, segara-gunung, segara-giri, pasir-wukir. Di ujung hulu utara berbatasan berpuncak pada Pucak Mangu sebagai puncak pesona keindahan (mangu, manga) sebagai kajaning kaja (utaranya utara) atau huluning hulu (hulunya hulu), karena Pucak Mangu menjadi kaja atau hulu baik bagi Bali Selatan (Badung) maupun Bali Utara (Buleleng). Adapun ujung selatan kekuasaan Mengwi berbatasan berpuncak pada pucak Luhur Uluwatu di Bukit Pecatu.
Di ujung hulu-hilir itu masing-masing berdiri tegak kukuh kawasan suci kuna yang kini dimasukkan sebagai pura Sad Kahyangan di hulu utara Pura Pucak Mangu sebagai stana Hyang Manikumayang atau Hyang Dnawa (Dewi Danau), atau Hyang Sangkara; sedangkan di ujung hilir selatan Pura Luhur Uluwatu sebagai stana Hyang Siwa Rudra. Satu hal yang sangat menarik adalah bahwa di kedua Pura ini arah orientasi pemujaan Siwaistis justru tidak selazimnya seperti di Bali umumnya, yakni ke arah timur (kangin) atau utara (kaja), melainkan justru ke arah diagonal. Di Pura Pucak Mangu arah pemujaan ke arah barat laut, sedangkan di Pura Luhur Uluwatu mengarah ke barat daya, keduanya mengarah ke kawasan kosong lepas, bukan ke arah gunung atau ke arah matahari terbit. Apa artinya ini? Apa yang hendak diperkatakan bagi pemuja teori-teori hulu kaja atau kangin atau malah kaja kangin (timur laut) di Bali normal normal generalis ini? Bukankah ini menunjukkan bahwa di titik pusat sentrum itu sesungguhnya tidak ada arah, orientasi, atau kiblat, karena justru titik pusat sentrum itu mengatasi memenuhi semua arah mata angin?
Tjokorda Sakti Blambangan sebagai Raja Mengwi I tampaknya juga adalah insan pecinta keindahan tulen. Ketika Puri Kawyapura dibangun, tetamanan baru juga dibangun di lokasi dataran lebih tinggi dan lebih luas. Lokasi inilah yang kemudian dinamakan Taman Ayun. Kata taman jelas mengisyaratkan keragaman yang indah, dan kata ayu bisa menukik ada makna rahayu, damai selamat sejahtera, bisa pula merujuk kayun, pikiran, hati yang damai tenteram. Taman Ayun, karena itu, sejak awal memang dimaksudkan untuk pelayanan perayaan penuh syukur atas keragaman taman pikiran dan hati nan indah. Keragaman itu sungguh karunia nan indah, bukan beban apalagi ancaman bencana. Lihat sajalah, Taman Ayun yang digagaskan sang Raja atas masukan sang bagawanta itu dirancang oleh arsitek berdarah Cina, bernama Ing Khang Choew, sahabat sang Raja. Betapa multietnis, multiras, multibangsa Bali dan Cina di situ bergamit. Cuma, lafal lidah Bali tulen suka mengucapkan nama Cina itu dengan I Kaco. Dalam versi Babad Mengwi pula disuratkan, Taman Ayun dibangun tahun 1632 dan selesai lengkap dengan upacara ritus keagamaannya pada Candra-sangkala sad bhuta yaksa dewa alias 1556 Saka, atau 1634 Masehi. Cuma lagi, tahun 1937 Taman Ayun diperbarui besar-besaran sehingga tampak sebagaimana wujud dan komposisinya kini.
Yang amat menarik sekaligus unik di situ taman Ayun adalah bahwa meskipun berstatus sebagai pura pusat resmi keluarga besar kerajaan, namun hampir semua pura-pura penting di lingkup arah utama mata angin jagat Bali dibuatkan bangunan suci perwakilan (pasimpangan) di sini. Ada palinggih pasimpangan Batukaru, Sakenan, Batur, Gunung Agung, Beratan (Pucak Mangu), Dalem Ped, dll. Hingga kayangan tiga desa, sampai pula bangunan suci bagi stana Keesaan Hyang Widhi dalam wujud Padma Rong Tiga Surya, dll. Tokoh-tokoh berjasa, seperti pendeta suci Dang Hyang Nirartha, maupun Pasek Badak yang punya kaitan historis pun dibuatkan bangunan suci di sini. Di sekeliling mengitari pura dibangun taman berair tetap sehingga jadilah posisi Pura Taman Ayun yang menghampar dari utara ke selatan ini layaknya Pulau Bali Mini yang dikelilingi samudra air. Dan, air telaga di Taman Ayun bukanlah sekadar hiasan belaka, melainkan telaga yang secara sosial-ekonomi justru berfungsi vital karena layaknya danau mini yang mengairi berhektar-hektar lahan sawah subur di hilirnya, hingga ke sawah-sawah di kawasan Kapal.
Dalam konteks historis di masa pembangunannya mungkin saja Taman Ayun didasari kepentingan praktis untuk memudahkan (mengatasi kesulitan transportasi saat itu) rakyat Mengwi bersatu-padu bersama-sama memuja Hyang Widhi dalam berbagai perbawa batara-batari di seantero padma bhuwana Bali. Namun, dari sisi konsepsional Taman Ayun dari jarak kekinian justru dapat dibaca sebagai isyarat rekonsiliasi atas aneka keragaman kebhinekaan yang mengisi Balidwipa saat itu.
Sumber : http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/3/2/ap3.html
Pura Bukit Sari
Adanya Pura Bukit Sari di hutan pohon pala Desa Sangeh Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung ini diceritakan secara mitologis dalam Lontar Babad Mengwi. Diceritakan putri Ida Batara di Gunung Agung berkeinginan untuk disungsung di Kerajaan Mengwi. Atas kehendak beliau maka hutan pala yang ada di Gunung Agung tempat putri Ida Batara Gunung Agung bermukim pindah secara misterius pada waktu malam.
Perjalanan belum sampai di Kerajaan Mengwi, keadaan sudah siang dan telanjur ada yang mengetahui perjalanan tersebut. Hal ini konon yang menyebabkan hutan pala tersebut tidak bisa berjalan lagi menuju Mengwi dan berhenti di Desa Sangeh sekarang. Konon putra angkat Raja Mengwi yang pertama I Gusti Agung Putu yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan menemukan bekas bangunan pelinggih.
Putra angkat Raja Mengwi tersebut bernama Anak Agung Ketut Karangasem. Atas penemuan tersebut Cokorda Sakti Blambangan memerintahkan untuk membangun kembali pura tersebut dan diberi nama Pura Bukit Sari. Yang dipuja di pura tersebut adalah Ida Batara Gunung Agung dan Batara Melanting. Pura Besakih di lereng Gunung Agung itu tergolong Pura Purusa atau sebagai jiwa dari Pulau Bali.
Di Gunung Agung-lah berbagai nilai suci ajaran Weda divisualkan dalam wujud bangunan suci.
Di Pura Bukit Sari ini terdapat tidak kurang dari 36 bangunan suci. Ada palinggih utama dan ada pelengkap. Ada Pelinggih Padmasari penyawangan Ulun Danu Beratan. Ada dua Padmasari sebagai Pelinggih Ratu Puncak Kangin dan Ratu Puncak Kauh. Kemungkinan pelinggih ini untuk penyawangan ke Gunung Agung dan ke Pura Batur atau Ratu Batara Melanting. Ada Pelinggih Meru Tumpang Sembilan. Ada Pelinggih Padmasana sebagai pemujaan Batara Sada Siwa. Ada empat Padmasari lagi masing-masing sebagai pemujaan Pucak Batur, sebagai Pelinggih Ratu Entap, Ratu Manik Galih dan Batara Wisnu. Berbagai gagasan hidup untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera lahir batin di bumi ini divisualkan dalam wujud bangunan suci dan ritual sakral di Pura Besakih. Sedangkan pemujaan pada Ida Batara Melanting dalam tradisi Hindu di Bali sebagai Dewa Pasar.
Sumber : http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=571&Itemid=99
———————————————————————————————————————————–
Filed under: Ekspedisi Majapahit | No Comments »